10/21/11

Yang Perlu Diperhatikan Dalam Utang Piutang

Dalam kehidupan sehari-hari,kadang kita tak terlepas dari masalah utang piutang dalam memenuhi kebutuhan hidup.Namun demikian,jangan sampai kita terjebak kedalam utang yang terus-menerus demi kebutuhan konsumtif.
Berutang sebaiknya dilakukan pada saat urgent atau untuk kebutuhan yang sangat mendesak.
Salahkah kita berutang? tentu tidak. Utang adalah
salah satu muamalah yang
dihalalkan. Bahkan, Islam sudah
mengatur dengan sangat indah.

Bagi yang berutang, ada
beberapa hal yang harus
diperhatikan:

1. Tak perlu malu/gengsi
Terlebih jika memang untuk
kebutuhan mendesak yang tidak
bisa ditunda. Semisal anggota
keluarga sakit, kecelakaan, kena
musibah, dll.

2. Tolak riba
Bagaimanapun mendesaknya
kebutuhan kita, jangan sampai
menerima bantuan mengandung
riba, karena jelas keharamannya.
Teruslah berusaha mencari
pinjaman yang tidak
mensyaratkan bunga, insya Allah
pasti ada jalan. Jika tidak ada,
lebih baik jual barang berharga.

3. Pilih orang terpercaya
Setidaknya kita paham
akidahnya, sehingga utang tidak
menjadi fitnah. Banyak kasus,
silaturahmi bubar hanya gara-
gara utang-piutang. Seperti, sang
piutang menceritakan ke sana-
sini bahwa kita tukang berutang.
Atau, dia menagih utang tanpa
ada toleransi alias ngajak ribut.

4. Segera bayar
Utang sifatnya wajib dibayar. Jika
sudah ada kelonggaran,
segeralah membayar utang dan
jangan sengaja menunda-nunda.
Rasulullah SAW bersabda: “Yang
terbunuh di jalan Allah (syahid)
akan dihapuskan semua dosanya
kecuali utang.” (HR Muslim)

5. Hindari konsumtif
Jika tidak mendesak, sebisa
mungkin hindari utang untuk
kebutuhan konsumtif. Lebih baik
untuk tujuan produktif, seperti
modal usaha. Dengan begitu jika
mendapat keuntungan, kelak
akan memperbaiki hidup
sehingga ke depan tak perlu
berutang lagi.

6. Catat
Utang wajib dibayar sampai kita
meninggal. Untuk menghindari
lupa, catatlah semua utang kita
sekecil apapun, sehingga ketika
kita meninggalpun bisa
dibayarkan oleh ahli waris.

Sementara itu, bagi pihak yang
diutangi, hendaklah
memperhatikan beberapa hal
berikut:

1. Ringankan tangan
Memberi utang ibarat setengah
sedekah. Rasulullah SAW berkata,
“Sesungguhnya memberi
pinjaman (hutang) itu
menempati kedudukan setengah
sedekah.”

2. Melonggarkan tenggang
waktu
Jika pengutang belum bisa
membayar sesuai waktu yang
dijanjikan, dan benar-benar
karena memang belum punya,
hendaklah berlapang dada
memundurkan waktu. Rasulullah
SAW berkata, “Barangsiapa
memberi tempo kepada orang
yang belum mampu melunasi
utangnya, maka ia setiap hari
seperti bersedekah sejumlah
barang yang ia utangkan.”

3. Membebaskan utang
Jika peminjam tak bisa melunasi
utang, meski sudah diberi
toleransi waktu yang panjang,
bisa jadi memang dia benar-
benar tak mampu. Orang seperti
ini, layaknya diberi sedekah,
bukan diutangi. Karena itu,
ikhlaskanlah. Insya Allah besar
pahalanya. “Barangsiapa yang
mau diselamatkan Allah dari
kesusahan pada hari kiamat,
maka hendaklah dia memberi
kelonggaran kepada orang yang
kesulitan atau membebaskan
utangnya.” (HR. Muslim).

Demikianlah, Islam
menganjurkan kaum Muslimin
untuk saling tolong menolong
dengan utang-piutang dilandasi
empati dan jalinan kekerabatan.

Source :
mediaumat

9/17/11

Mengenal Jenis Dzikir

Dalam kitab Al Wabilush
Shoyyib, juga kitab lainnya
yaitu Madarijus Salikin dan Jala-ul
Afham, ibnul Qoyyim rahimahullah membahas mengenai
berbagai jenis dzikir. Disitu dikatakan bahwa dzikir
tidak terbatas pada bacaan dzikir
seperti tasbih (subhanallah),
tahmid (alhamdulillah) dan takbir
(Allahu akbar) saja. Tetapi
dzikir itu lebih luas dari itu.
Mengingat-ingat nikmat Allah
juga termasuk dzikir. Begitu pula
mengingat perintah Allah
sehingga seseorang segera
menjalankan perintah tersebut,
itu juga termasuk dzikir.
Selengkapnya berikut penjelasan beliau.

Dzikir itu ada tiga jenis:

Jenis Pertama:
Dzikir dengan mengingat nama
dan sifat Allah serta memuji,
mensucikan Allah dari sesuatu
yang tidak layak bagi-Nya.
Dzikir jenis ini ada dua macam:
Macam pertama: Sekedar
menyanjung Allah seperti
mengucapkan “subhanallah wal
hamdulillah wa laa ilaha illallah
wallahu akbar”, “subhanallah wa
bihamdih”, “laa ilaha illallah
wahdahu laa syarika lah lahul
mulku wa lahul hamdu wa huwa
‘ala kulli syai-in qodiir”.
Dzikir dari macam pertama ini
yang utama adalah apabila dzikir
tersebut lebih mencakup banyak
sanjungan dan lebih umum
seperti ucapan “subhanallah
‘adada kholqih” (Maha suci Allah
sebanyak jumlah makhluk-Nya).
Ucapan dzikir ini lebih afdhol
dari ucapan “subhanallah” saja.
Macam kedua: Menyebut
konsekuensi dari nama dan sifat
Allah atau sekedar menceritakan
tentang Allah. Contohnya adalah
seperti mengatakan, “Allah Maha
Mendengar segala yang
diucapkan hamba-Nya”, “Allah
Maha Melihat segala gerakan
hamba-Nya, “tidak mungkin
perbuatan hamba yang samar
dari penglihatan Allah”, “Allah
Maha menyayangi hamba-Nya”,
“Allah kuasa atas segala
sesuatu”, “Allah sangat bahagia
dengan taubat hamba-Nya.”
Dan sebaik-baik dzikir jenis ini
adalah dengan memuji Allah
sesuai dengan yang Allah puji
pada diri-Nya dan memuji Allah
sesuai dengan yang Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
memuji-Nya, yang
dilakukan tanpa
menyelewengkan, tanpa menolak
makna, tanpa menyerupakan
atau tanpa memisalkan-Nya
dengan makhluk.

Jenis Kedua:
Dzikir dengan mengingat
perintah, larangan dan hukum
Allah.
Dzikir jenis ini ada dua macam:
Macam pertama: Mengingat
perintah dan larangan Allah, apa
yang Allah cintai dan apa yang
Allah murkai.
Macam kedua: Mengingat
perintah Allah lantas segera
menjalankannya dan mengingat
larangan-Nya lantas segera
menjauh darinya.
Jika kedua macam dzikir (pada
jenis kedua ini) tergabung, maka
itulah sebaik-baik dan semulia-
mulianya dzikir. Dzikir seperti ini
tentu lebih mendatangkan
banyak faedah. Dzikir macam
kedua (pada jenis kedua ini),
itulah yang disebut fiqih akbar.
Sedangkan dzikir macam
pertama masih termasuk dzikir
yang utama jika benar niatnya.

Jenis ketiga:
Dzikir dengan mengingat
berbagai nikmat dan kebaikan
yang Allah beri.

Dzikir dengan Hati dan Lisan
Dzikir bisa jadi dengan hati dan
lisan. Dzikir semacam inilah yang
merupakan seutama-utamanya
dzikir.
Dzikir kadang pula dengan hati
saja. Ini termasuk tingkatan
dzikir yang kedua.
Dzikir kadang pula dengan lisan
saja. Ini termasuk tingkatan
dzikir yang ketiga.
Sebaik-baik dzikir adalah dengan
hati dan lisan. Jika dzikir dengan
hati saja, maka itu lebih baik dari
dzikir yang hanya sekedar di
lisan. Karena dzikir hati
membuahkan ma’rifah,
mahabbah (cinta), menimbulkan
rasa malu, takut, dan semakin
mendekatkan diri pada Allah.
Sedangkan dzikir yang hanya
sekedar di lisan tidak
membuahkan hal-hal tadi.

Dari apa yang disampaikan
oleh Ibnul Qayyim di atas, dapat disimpulkan bahwa duduk di
majelis ilmu yang membahas
bagaimana mengenal Allah
melalui nama dan sifat-Nya,
bagaimana mengetahui secara
detail hukum-hukum Allah
berupa perintah dan larangan-
Nya, itu semua termasuk dzikir.
Bahkan jika sampai ilmu itu
membuahkan seseorang
bersegera taat pada Allah dan
menjauhi larangan-Nya, itu bisa
menjadi dzikir yang utama
sebagaimana yang dikatakan
oleh Ibnul Qayyim sebagai fiqih
akbar. Namun jika sekedar
mengilmuinya saja, itu pun
sudah termasuk dzikir. Itu berarti
bukan suatu hal yang sia-sia jika
seseorang berlama-lama duduk
di majelis ilmu untuk
mendengarkan nasehat para
ulama yang mana di dalamnya
dibahas hal yang lebih detail
tentang Allah, berbagai perintah dan larangan-
Nya. Ini sungguh merupakan
dzikir yang amat utama.
Semoga Allah menganugerahkan
pada kita semangat dan
keistiqomahan untuk terus
belajar dan tidak lalai dari dzikir pada-Nya.

Source : muslim

9/15/11

Tips Memulai Usaha Sampingan

Bila merasa penghasilan selama ini kurang sebagai seorang karyawan/pegawai,maka solusinya kita mesti mencari alternatif lain untuk menambah pundi-pundi penghasilan.Salah satunya adalah menjalankan usaha sampingan.Tak perlu gegabah langsung keluar dari pekerjaan yang ada,sebagai antisipasi apabila usaha yang kita rintis gagal.
Untuk memulai suatu usaha,kadang kita bingung dan timbul pertanyaan "harus memulai darimana ya?, jenis usaha yang cocok buat saya apa ya kira-kira?,bisa jalan apa ga nantinya?" dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang kadang membuat kita ragu untuk memulai.
Kata pepatah,"setiap sesuatu diawali dari mulai" (entah darimana saya dapat pepatah ni, hee..) yang pasti untuk memulai sesuatu kita harus punya keberanian dalam menghadapi resiko yang menyertainya.Seperti halnya anak kecil yang akan belajar berjalan,walaupun berulang kali jatuh bangun-toh mereka berani dan tidak jera-sampai akhirnya berhasil.
Berikut beberapa tips sederhana untuk memulai usaha.

1. Mulai dari yang di sukai
Kita bisa mulai mencoba
membuka usaha yang sesuai
dengan hobi atau kesukaan
kita. Karena kalau sudah
suka, tentu tidak akan cepat
bosan dan mudah menyerah
menjalankannya walaupun
mungkin di masa-masa awal
akan ada banyak tantangan.
2. Mulai dari yang kita kuasai
Atau bisa mencoba dengan
membuka usaha yang
memang sudah kita kuasai
bidangnya. Waluapun belum
berpengalaman
berwirausaha, yakinlah keahlian yang ada
bisa dimanfaatkan. Misalnya
saja anda menguasai tekhnik merangkai bunga,atau pembudidayaan tanaman hias,anda bisa mulai
usaha merangkai bunga atau penjual tanaman hias.Catering,membuat kue,jasa pengetikan dll.
3. Pilih usaha yang bisa dijalankan disela-sela waktu kerja (waktu istirahat misalnya),atau diluar jam kerja agar tidak mengganggu kinerja kita.Misalnya jual voucher pulsa,bisnis jaringan (MLM) yang tidak butuh banyak waktu.
4. Perhatikan lingkungan tempat kerja kita, apa saja yang banyak dibutuhkan tetapi kurang ketersediaanya,hal tersebut bisa kita jadikan peluang sebagai usaha.
5. Telusuri kemana saja uang mengalir.
Cara lain yang bisa bisa
lakukan adalah dengan
menelusuri kemana saja uang
mengalir selama ini. Tujuan
membuka usaha ini adalah
untuk menambah
penghasilan,maka
kita perlu melihat
bagaimana caranya uang
berputar. Berpindah tangan
dari konsumen ke penjual,
agen, produsen dan
seterusnya. Coba lihat bahwa
anda selama ini
mengeluarkan uang untuk
membeli keperluan hidup.Teliti satu
persatu arus uang yang
sudah dikeluarkan pada
sopir angkot, pengusaha
makanan, toko dan
sebagainya. Mungkin ada
salah satu celah dimana kita
bisa menikmati keuntungan
dari arus uang tadi.
6. Jangan pernah takut untuk mencoba dan gagal!
Anggap saja kegagalan adalah sebuah tantangan untuk kita bangkit lagi memotivasi diri.Para ilmuwan tidak hanya sekali bereksperimen dalam menciptakan sebuah penemuan,tetapi berulang kali gagal tanpa pernah menyerah.
7. Bila gagal dalam satu hal,cari dan coba hal lain yang mungkin lebih sesuai dengan kondisi kita.Pantang menyerah dan istiqomah.
Semoga manfaat,insyaallah.

Berbagai sumber.